Translate

Minggu, 14 Februari 2016

Pengalamanku Bersama ODGJ



Bertemu dengan ODGJ?
Di masa kecil dan remaja saya, itu adalah hal yang begitu biasa. Bagaimana tidak, rumah orang tua saya hanya berjarak beberapa meter saja dari Rumah Sakit Jiwa (RSJ).
RSJ di dekat rumah orang tua saya itu memiliki area yang cukup luas. Berbagai aktifitas harian saya pun banyak yang saya lakukan di seputar area RSJ. Bermain sepeda di sore hari atau di minggu pagi, les menari, hingga mengambil susu sapi langganan setiap pagi.
Teman-teman sekolah saya juga banyak yang tinggal di area perumahan karyawan di dalam lingkup RSJ karena orang tua mereka adalah karyawan RSJ. Jadi, belajar kelompok atau sekedar bermain di sana sudah menjadi rutinitas keseharian saya.
Takut tidak ketika bertemu dengan ODGJ?
Ketika masih kecil, iya. Memang takut. Saat masih duduk di TK hingga SD kelas satu atau dua, Mbak yang dulu mengasuh saya sering menakut-nakuti saya dengan kalimat: ‘Awas, ono wong edan’ (awas, ada orang gila) setiap kali saya nakal. Di seusia itu tentu otak saya segera menangkap kesan bahwa ODGJ itu menakutkan dan berbahaya. Tapi seiring pertumbuhan usia, di mana saya mulai lebih banyak beraktifitas bersama teman-teman, saya semakin paham bahwa tidak semua ODGJ itu berbahaya. Beberapa ODGJ yang sudah mendekati normal dan tenang dibiarkan berjalan-jalan di seputar RSJ bahkan kadang ada juga yang kebablasan sampai keluar wilayah RSJ. Mereka memakai baju seragam pasien supaya masyarakat mengenali dan tetap waspada. Ketika itu baju seragam mereka bermotif batik, kalau tidak salah perpaduan antara warna hijau dan coklat, dan celana pendek atau rok berwarna coklat (mungkin sekarang seragam mereka sudah berbeda). Jadi kalau bertemu dengan orang memakai baju seperti itu, kami langsung tahu bahwa dia adalah pasien RSJ. Terbiasa bertemu mereka di jalan membuat perasaan saya biasa-biasa saja, tidak ada perasaan takut, cemas, dan sebagainya. Paling hanya tersenyum dalam hati ketika melihat mereka tertawa atau berbicara sendiri.
Apakah selalu mulus-mulus saja hidup berdampingan dengan ODGJ? Hehehe... tentu tidak. Ada beberapa kali kejadian, ODGJ yang sebetulnya belum boleh dilepas sendirian tiba-tiba saja lepas dari pengawasan dan kabur. Kejadian yang paling mendebarkan terjadi di suatu minggu pagi ketika saya sedang bersantai di kamar yang terletak di lantai dua.
Ketika itu saya sedang tidur-tiduran sambil... apa ya..? mungkin membaca buku atau mendengarkan musik, atau mungkin keduanya. Ketika tiba-tiba ada suara-suara gaduh dari luar. Saya segera keluar kamar bermaksud menuju teras untuk melihat ke bawah apa yang terjadi.
Deg. Jantung saya seperti berhenti berdetak melihat seseorang dengan seragam pasien RSJ berdiri di teras. Diam, hanya memandang saya. Mungkin dia memanjat melalui pagar kebun tetangga yang memang dibuat tinggi hingga hampir menyamai teras di lantai atas rumah saya.
Melihat orang dengan seragam pasien RSJ ketika sedang berada di jalan sungguh berbeda rasanya ketika melihatnya di teras rumah saya. Di lantai atas pula. Kali ini saya tidak menganggapnya biasa-biasa saja. Saya ketakutan. Sangat ketakutan. Segera saya berbalik dan berlari menuju tangga, bertepatan ketika sudut mata saya melihat dua orang pria berseragam perawat memanjat ke teras.
Dari penjelasan perawat, ODGJ tersebut memang belum diperbolehkan untuk keluar dari ruang perawatannya karena dianggap masih belum bisa berbaur sepenuhnya dengan masyarakat, tapi entah bagaimana tiba-tiba saja dia lepas dari pengawasan dan kabur. Ketika dikejar dia justru berlari ke luar area RSJ hingga akhirnya memanjat ke lantai atas rumah saya. Saya hanya bisa bergidik membayangkan apa yang ada di dalam pikiran ODGJ itu ketika melihat saya. Apa yang mungkin di lakukannya? Memukul? Atau mengamuk...? entahlah, yang pasti saya sangat bersyukur karena dia hanya diam saja dan hanya menatap saya.
Kejadian tak terduga dengan ODGJ juga pernah dialami oleh bapak saya. Ketika itu sekitar pukul 5 pagi, Bapak baru saja mengambil susu sapi langganan dan mengendarai motornya perlahan-lahan menikmati segarnya udara pagi. Tak di duga-duga, ada seorang wanita berseragam pasien tiba-tiba saja sudah berada di belakang motor Bapak sambil melambai-lambai dan berteriak-teriak: “Mas... tunggu aku... tunggu aku Mas....” Sontak Bapak segera memacu motornya, lenyap sudah keinginan untuk menikmati segarnya udara pagi. Dan kami yang di rumah justru terpingkal-pingkal ketika mendengarkan Bapak bercerita, membayangkan adegan ketika Bapak dikejar-kejar oleh ODGJ wanita.
Sekarang saya sudah menikah dan pindah. Beberapa kali ketika mudik saya lihat RSJ itu semakin bagus dan megah saja. Kadang masih suka tersenyum-senyum sendiri mengenang masa-masa kecil dan remaja yang pernah saya habiskan di sana, termasuk beberapa interaksi saya dengan ODGJ. Kalau temans, adakah pengalamannya dengan ODGJ?

 Tulisan ini diikutkan dalam Giveaway Aku dan Orang dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) yang diselenggarakan oleh Liza Fathia dan Si Tunis


3 komentar:

  1. Tadi sebelum baca tulisannya sempat mikir....apa sih odgj? Tfs ya mb rita :)

    BalasHapus
  2. Aduuuh, kejadian bertemu ODGJ yang dialami bapak emang bikin pendengarnya tertawa, padahal yang ngalami jantungnya pasti mau copot, hikss

    BalasHapus
  3. lha, kenapa lari ya si bapak? mungkin saja pasien itu cuma mau numpang nanya :)

    BalasHapus