Translate

Sabtu, 20 Februari 2016

Naskah Yang Tidak Lolos



Sering melihat artikel teman-teman yang dimuat di rubrik Nuansa Wanita majalah Ummi, saya pun jadi ingin ikut mejeng di majalah tersebut.
Pertama kali, langsung kirim 2 naskah sekaligus dan... gagal. Hehehe...

Tapi majalah Ummi baik sekali karena mau repot-repot mengirim email pemberitahuan yang mengabarkan bahwa naskah saya memang belum bisa dimuat. Kan biasanya kalau memang gak dimuat ya udah gak ada pemberitahuan apa-apa gitu ya....
Tetap semangat ah mengirim naskah ke rubrik ini. Pokoknya pantang pulang sebelum padam, (eh...)
Ini contoh naskah yang tidak bisa dimuat ya temans...
Biasanya sih contoh naskah yang dishare itu adalah yang berhasil dimuat ya, hahaha....  biarin deh, ini saya share yang tidak berhasil dimuat, paling tidak kan bisa dipelajari, oh besok-besok kalau mau kirim naskah jangan yang seperti ini ya, gitu lho... hihi... (ngeles aja).
ANAKKU SUDAH REMAJA
“Mama, jangan peluk-peluk ah. Kan malu...”
Belakangan ini si kakak selalu berkata begitu ketika saya memeluk atau sekedar merangkulnya di tempat umum. Begitu juga ketika akan berangkat ke sekolah, biasanya saya bebas menciumnya di halaman sekalipun. Tapi sekarang Kakak hanya hanya mau dicium ketika masih berada di dalam rumah saja. Begitu di teras atau halaman, jangan harap saya bisa bebas mengeluarkan ekspresi perasaan sayang.
Sedih?  Hehehe... tentu saja...
Tetapi suami senantiasa mengingatkan bahwa si kakak bukannya sudah tidak ingin lagi disayang. Tentu dia masih dan tetap ingin disayang, tetapi dengan cara yang berbeda.
Jika ketika masih kecil dulu si kakak akan merasa nyaman berada dalam pelukan saya, maka sekarang keadaannya berbeda. Yang dibutuhkannya bukan lagi sekedar pelukan atau ciuman. Tapi lebih dari itu. Kini dia butuh tempat untuk bercerita, mengungkapkan segala apa yang dia dengar, lihat, dan rasa.
Ya, si kakak kini sudah remaja. Tentu rasa kehilangan itu terkadang masih ada. Rasa rindu ketika dia ngintilin saya kemanapun saya melangkah, ketika dia minta dipeluk saat mau tidur, atau ketika dia berceloteh dengan suara kanak-kanaknya dengan hati dan pikirannya yang masih lugu.
Dan ketika rasa-rasa itu sesekali kembali datang, saya segera mengingatkan diri saya, bahwa justru si kakak kini jauh lebih membutuhkan saya daripada sebelumnya. Karena kini dia sudah mulai melihat dan menghadapi dunia yang sebenarnya. Dia butuh bimbingan, arahan, dan nasehat supaya tidak tersesat dan salah mengambil arah langkah.
Ekspresi perasaan sayang terhadap anak akan bergeser seiring pertambahan usianya. Karena mereka memiliki kebutuhan yang berbeda. Semakin besar usia anak, maka semakin berat pula tugas kita dalam mendampinginya.
Kebutuhan anak remaja bukan lagi sekedar dipeluk, dicium, atau diperdengarkan kata-kata sayang. Kini mereka juga membutuhkan tempat untuk membagi gundah dan bahagianya. Membutuhkan tempat untuk mencurahkan berbagai ide dan pemikirannya. Membutuhkan pendamping untuk melangkah menghadapi dunia yang sebenarnya.
Semoga Allah senantiasa membimbing saya untuk selalu dapat menyayangi anak-anak saya sesuai dengan porsinya.
NYAMUK
Ketika musim penghujan mulai tiba, biasanya saya akan menyambutnya dengan sibuk bersih-bersih seluruh rumah. Saya memang takut dan selalu waspada terhadap ancaman penyakit demam berdarah yang seringkali mengintai terutama di musim penghujan.
Lingkungan RT tempat tinggal saya juga biasanya akan melakukan pengasapan untuk membunuh nyamuk-nyamuk yang mengancam kesehatan ini. Dan untuk alasan yang sama pula saya pun mulai menyiapkan beraneka macam obat nyamuk mulai dari yang bakar, semprot, sampai elektrik. Tak lupa saya juga menyiapkan lotion anti nyamuk untuk anak saya ketika pergi ke sekolah atau berkegiatan di luar rumah.
Hingga suatu malam ketika saya hendak memasang obat nyamuk elektrik di kamar anak saya, tiba-tiba dia berkata, “Mama, jangan nyalakan obat nyamuk. Kasihan nanti nyamuknya mati...”
Tentu saya heran mendengarnya berkata begitu. Dan kalimat yang dia lontarkan selanjutnya sungguh di luar dugaan saya. “Bukankah nyamuk itu makhluk Allah juga? Kasihan kalau dibunuh. Mereka hanya lapar, ingin mencari makan. Kalau sedikit darah Dedek bisa membuat mereka kenyang, Dedek ikhlas kok Ma, ngasih sedikit darah Dedek untuk mereka makan.”
Deg. Kata-katanya membuat saya terpaku. Segera saya menyadari kalau apa yang selama ini saya tanamkan tentang menyayangi sesama makhluk ciptaan Allah sungguh membekas di dalam hati dan ingatannya, jauh lebih dalam dari yang saya kira.
Mama bangga padamu, nak....
Walaupun nanti saya masih harus memberikan banyak penjelasan tentang bahaya nyamuk demam berdarah yang dapat merugikan kesehatan, dan bahwa nyamuk-nyamuk ini bukan sekedar mencari makan, tetapi juga dapat menularkan penyakit berbahaya ketika mengambil darah kita...
Tapi saya sungguh merasa bangga, ketika anak saya mulai bisa menunjukkan sikap untuk menyayangi sesama.

4 komentar:

  1. semangat mbak,bikin lagi...

    BalasHapus
  2. aku belum pernah kirim ke Ummi mbak. mau coba juga ah.

    BalasHapus
  3. Tulisannya bagus, Mba.
    Hhhmm, mulai belajar juga nih.

    Hehehe anaknya empatinya tinggi ya.

    BalasHapus