Translate

Kamis, 05 Juli 2018

Sang Penyimpan Kenangan


Sang penyimpan kenangan di rumah saya adalah Raki. Di tangannya, segala barang yang memiliki kenangan (dan yang tidak) akan tersimpan dengan cukup apik, sepertinya menurun dari saya sih 

Dulu saya pun suka menyimpan barang-barang tak berarti yang menurut saya memiliki sebuah kenangan.
Hanya saja semakin bertambahnya usia, saya sudah tidak terlalu mementingkan barang-barang kenangan. Apalagi jika barang itu tidak bermanfaat dan hanya memenuhi tempat saja, pasti akan saya buang atau diberikan kepada orang yang lebih membutuhkan. Karena bagi saya sekarang, sebuah kenangan akan lebih abadi dengan cukup menyimpannya di pikiran dan di hati.
Hobi Raki menyimpan barang kenangan ini terkadang jadi menimbulkan konflik kecil dengan Rafka. Semisal, Rafka lupa menyimpan gantungan kunci yang dibeli di Candi Prambanan yang mengakibatkan Raki marah-marah dan berujung dengan ngambeknya Rafka dan bertengkarnya mereka berdua.
Saya saja pernah dibuat kesal saat tanpa sengaja Raki memecahkan gelas bertuliskan zodiak papanya dan marah-marah sendiri sampai seharian. Padahal yang memecahkan kan dia sendiri zzz....
Gelas itu memang dulu saya beli sepasang dengan tulisan zodiak saya dan papanya, jadi bagi Raki itu adalah barang kenangan. Padahal kalau beli lagi juga kan banyak yaaa.. gelas dengan tulisan zodiak. Tapi kata Raki yang bentuknya persis seperti itu mungkin sudah tidak ada. Ya memang benar sih, tapi lalu apa masalahnya coba, duh rempong bener ya...
Kecintaan Raki pada berbagai barang kenangan memang agak berlebihan dan jatuhnya jadi sering membuat kami sebal, hahaha...
Saya jadi sering cerewet menasehati Raki supaya jangan terlalu mencintai kenangan yang berupa barang. Karena yang namanya barang itu pasti tidak abadi, bisa hilang atau rusak. Dan kalau sebuah kenangan hanya bisa dirasakan melalui sebuah barang, berarti kalau barangnya sudah tidak ada, kenangannya jadi pudar dong.
Sebuah kenangan akan lebih abadi jika kita menyimpannya di hati, di pikiran. Maka dia akan terus hidup selama kita hidup. Tidak peduli barang-barang yang menyertainya sudah musnah, dia tidak akan pernah musnah, kecuali jika kita memang melupakannya.
Dan lagi jaman sekarang kan sudah begitu gampang cekrak-cekrek ya, jadi seharusnya Raki tidak perlu terlalu menganggap gantungan kunci yang dibeli di Candi Prambanan itu sebagai barang kenangan. Karena foto-foto yang di ambil di sana itu kan sudah cukup mewakili kenangan tersebut, iyes to?
Bukannya saya lalu tidak peduli dengan barang-barang kenangan yaa... selama barang itu bermanfaat, tidak menuh-menuhin tempat, dan tidak bikin Raki dan Rafka bertengkar, saya oke saja kok.
Sekarang sih (sepertinya)  Raki sudah jarang ribut-ribut karena barang yang hilang atau rusak. Entah karena kata-kata saya mengena di hatinya atau karena takut saya marahin
Hahaha....
Terima kasih sudah membaca :D 

3 komentar:

  1. Sama mbaaa, aku juga sekarang malah pingin seminimalis mungkin isi rumah, biar ga sumpek hihi
    Padahal dulu abis jamannya jadi nganten, semua perintilan kayak bekas kotak seserahan aku simpen mikirnya buat kenang kenangan, e smakin lama barang smakin menumpuk huhu, dan terasa sesek

    BalasHapus
  2. Saya juga suka menyimpan kenangan dalam bentuk foto, hehe...

    BalasHapus
  3. Kayaknya semua 80% emak2 zaman now itu suka kalau rumah lebih lapang dan ga kebanyakan barang terlebih yang unfaedah hahaha.

    Tapi emang anak2 suka nyimpan barang kenangan kayaknya ya. .
    Anak saya juga.
    Suka banget bikin rumah jadi kayak gudang hiks

    BalasHapus