Translate

Kamis, 12 Juli 2018

Nyentrik Ke Sekolah



Saya sedang terbengong-bengong duduk di warung mungil sambil menanti pembeli, ketika tiba-tiba ingatan melayang pada sebuah obrolan dengan adik saya, beberapa waktu yang lalu.
Ketika itu, adik bercerita tentang salah satu siswi di sekolah tempatnya mengajar, yang datang ke sekolah dengan memakai eyeliner. Seorang guru menegurnya dan tahu apa jawaban siswi tersebut?
“Ibu Guru saja pakai eyeliner kenapa saya tidak boleh?”
Wow, saya takjub mendengarnya.
Ya, itu pertanyaan yang wajar sebetulnya sih. Pertanyaan kritis seorang remaja. Saya bahkan sempat berpikir bahwa siswi ini mungkin adalah anak yang cerdas. Dan memang seseorang yang cerdas itu seringkali membangkang kan?  wkwkwk.
Tapi tetap geleng-geleng kepala sih, mengingat masa-masa remaja saya dulu yang jika mengalami hal itu, sudah pasti tidak akan berani menjawab guru seperti itu, walau di hati sebenarnya ingin. Seandainya mengalami hal seperti itu, paling kami hanya akan cengar-cengir dan buru-buru menghapus make up walaupun mungkin besok diam-diam akan pakai lagi wkwkwk.... (btw, dulu saya dan teman-teman perempuan sering bandel pakai lipstik nude tipis-tipis ke sekolah).
Geleng-geleng kepala melihat sikap anak-anak sekarang yang sepertinya sudah kehilangan rasa sungkan dan hormat terhadap yang lebih tua, apalagi guru. Berani membangkang dengan terang-terangan bahkan terkesan menantang. Duh sedihnya... ini adalah PR bagi kita para orang tua ya, untuk bisa mengembalikan sikap santun dan sopan yang mendarah daging ke dalam jiwa raga anak-anak kita, supaya mereka tahu bagaimana harus bersikap terhadap orang lain, terutama dengan orang yang lebih tua.

.
.
Dan karena warung masih sepi belum kunjung ada pembeli, pikiran saya kembali berkelana  dan kemudian muncul pertanyaan seperti ini:
Kenapa anak-anak dilarang berpenampilan ‘berbeda’ ke sekolah?
Ini kalau menurut saya..... menurut saya lho ya, asal anak itu memiliki minat belajar yang tinggi, tidak pernah membuat masalah, bisa bersikap santun terhadap semua orang, dan memiliki empati yang tinggi terhadap sekitarnya, maka tidak apa-apa kalau dia ingin berpenampilan ‘beda’. Karena sejatinya yang perlu ditanamkan ke dalam diri anak-anak adalah hal-hal yang saya sebutkan di atas itu kan? Tidak peduli dia ber-make up atau tidak, rambutnya dicat atau tidak, atau rambutnya gondrong atau tidak (bagi anak laki-laki). Sekali lagi kalau menurut saya, selama mereka bersih dan rapi, tidak apa-apa sih berpenampilan sedikit nyeleneh dan nyentrik hehe......
Karena sejatinya PR bagi kita adalah membentuk generasi-generasi yang tangguh, pekerja keras, sekaligus santun dan berbudi pekerti.
Masalah penampilan, biarlah mereka memilih sendiri mau berpenampilan seperti apa yang sesuai dengan jiwa dan karakternya.
Saya pernah melihat beberapa santri dari sebuah pondok pesantren yang berambut gondrong. Namun mereka mengikat rambutnya dengan rapi ke belakang dan bersikap santun terhadap semua orang. Yang begini saya jauh lebih respek sih, daripada anak-anak yang rambutnya tidak gondrong tapi sikapnya acuh tidak peduli dengan sekitarnya.
Masalah penampilan kan masalah selera ya, tidak adil rasanya kalau seorang anak dijudge tidak baik hanya karena seleranya yang berbeda.
Saya jadi ingat dengan seorang sahabat saat SMP. Dia itu pandai sekali membuat rancangan baju. Di bagian belakang buku pelajarannya bisa dipastikan ada gambar rancangan bajunya. Selain itu dia juga pandai sekali menggambar manga. Jadi kalau dia sudah mulai menggabungkan antara gambar manga dengan rancangan bajunya, kami sahabat-sahabatnya hanya bisa berdecak iri mengagumi bakatnya ini.
Tapi dia sangat kurang di pelajaran fisika. Saya ingat betul guru fisika kami menganggapnya bodoh saat itu.
Ada satu hal yang masih saya ingat sampai sekarang (tidak tahu dia masih ingat itu atau tidak), dia suka sekali memakai gelang keroncong ke sekolah. Kami, sahabat-sahabatnya, melihat dia pantas-pantas saja memakai itu karena dia kan calon desainer, uhuk (di mata kami, wkwk).
Dan kami, sahabat-sahabatnya, ikut merasakan sakitnya hati ketika dia tidak bisa mengerjakan soal fisika (seperti biasa) dan guru fisika kami dengan sinisnya berkata: “Tanganmu keberatan gelang sampai otakmu tidak bisa dipakai berfikir”.
Apakah ada hubungannya antara gelang dan otak?
Sahabat saya itu, bukan tipe murid yang nakal dan pembangkang. Dia pendiam, baik pada semua orang, dan sopan terhadap guru. Tidak adil rasanya dia dijudge hanya karena gelangnya. Seharusnya guru fisika kami berkata: “Kamu kurang belajar dan berlatih di rumah makanya tidak bisa mengerjakan soal”. Seharusnya begitu kan .... ah, sudahlah.
Rasanya sekolah akan menjadi tempat yang sangat menyenangkan bagi anak jika potensi mereka dimengerti, digali, dan terus dimotivasi. Pribadi mereka dibentuk supaya menjadi manusia-manusia berakhlak tinggi. Dan biarkan mereka bebas berpenampilan sebagai bentuk kebebasan mereka dalam berekspresi. Kalau atmosfir di sekolah sudah cukup menyenangkan pasti mereka juga akan lebih semangat kan belajarnya?
Iya saya tahu, jadi guru tidak semudah itu. Ada banyak guru dalam keluarga besar saya sehingga saya tahu bahwa guru jaman sekarang memiliki beban yang jauh lebih berat.
Jadi ini adalah PR bagi kita semua, baik guru maupun orang tua, untuk tidak pernah lelah membimbing anak-anak kita supaya mereka tumbuh menjadi manusia-manusia yang luar biasa.
Tidak usah terlalu mendikte penampilan mereka karena toh, saat memasuki dunia kerja, mereka akan berpikir dengan sendirinya penampilan yang bagaimana yang baik bagi mereka.

Terima kasih sudah membaca
Mohon maaf jika ada salah-salah kata, ini hanya pendapat pribadi saya saja ^_^

2 komentar:

  1. Mbaaa.. saya kepo, itu anak SMP atau SMA?

    Di luar sikapnya yang keterlaluan berani pada yang lebih senior, saya rasa anak tsb bener adanya.
    Justru mungkin dia berani dandan karena sering liat emaknya di rumah dandan dan gurunya juga dandan.
    Thats mean gak ada larangan dandan kan? :D

    Tapi bagi saya yang generasi tu eh senior hehehe, kurang setuju melihat anak-anak berpenampilan yang tidak wajar.
    Bukannya apa-apa, kayaknya kurang cocok aja ama budaya kita dan membuat anak-anak lain jadi ikut-ikutan dandan yang pastinya butuh duit juga kan ya?

    Saya rasa dengan seragam sudah jelas bahwa tujuannya adalah pemerataan.
    Bahkan di sekolah-sekolah tertentu, anak-anak dilarang pakai perhiasan ke sekolah, hanya boleh jam tangan, itupun kadang dilarang pakai jam tangan kemahalan, takut hilang trus gurunya yang rempong disalahkan wkwkwk.

    Dan guru juga seharusnya memberikan contoh berpakaian yang pantas, dan pastinya orang tua juga yang memegang peranan penting :)

    BalasHapus
  2. Anak-anak sekarang lebih berani bertanya hingga bedebat, ya. :D

    BalasHapus