Translate

Jumat, 13 Juli 2018

Sang Introvert



Dulu, saya adalah seorang introvert. Sekarang juga sih, tapi sudah bisa banyak menyesuaikan diri.
Saya enjoy walaupun selama berhari-hari tidak keluar rumah, tidak bertemu orang lain selain keluarga, tidak berinteraksi dengan dunia luar.

Dulu, setiap waktu liburan tiba, saat teman-teman sibuk merencanakan mau main ke sini, atau jalan-jalan ke sana. Saya santai saja di rumah. Membaca buku, menyewa film, atau sekedar nonton vcd boyband-boyband kesayangan :D Sekarang, jadi ibu rumah tangga yang 90% di rumah, saya masih cukup enjoy.
Banyak juga yang heran, “Kok kamu nggak bete siih..? aku aja kalau 2 hari nggak keluar rumah beteee...”
Hahaha... ya nggak tahu ya. Saya sendiri kadang heran kenapa saya nggak bete? Mungkin karena saya seorang introvert. Saya merasa nyaman berada dalam kesunyian, dalam kesendirian. Berbicara pada hati sendiri, berdebat dengan pikiran sendiri.
Saya betah duduk sendirian berjam-jam di tengah keramaian. Membaca, mendengarkan musik, atau sekedar memperhatikan orang-orang yang berlalu-lalang. Tanpa teman bicara. Tidak bosan, dan merasa nyaman.
Sifat introvert ini dulu sering merugikan (dulu ya, karena seperti yang saya bilang di awal tulisan, sekarang saya sudah bisa banyak menyesuaikan diri).
Cap sombong hampir tidak pernah lepas dari diri saya. Terlontar dari mana-mana. Padahal demi Allah, saya bukan bermaksud sombong. Saya hanya bingung ketika akan memulai sebuah percakapan. Takut salah bicara, takut mengganggu, takut tidak disukai, dan takut-takut lain yang berujung dengan bungkamnya saya dan menambah koleksi cap combong saya.
Dulu, teman-teman baik saya di sekolah seringkali mengungkapkan kesan pertama mereka terhadap saya, “Dulu aku kirain kamu sombong lho. Habis diam saja di pojokan kayak patung...”
Hahaha...
Dan pembelaan saya biasanya adalah: “Ya waktu itu kan aku belum kenal kalian, kalau tiba-tiba nimbrung ikutan haha hihi takutnya dibilang SKSD kan...”
Yang sudah cukup lama mengenal saya biasanya akan paham, bahwa saya pendiam hanya di awal-awal penyesuaian. Ketika sudah sering bertemu dan saya sudah merasa cukup nyaman, maka saya adalah seorang teman yang menyenangkan (ini kata mereka lho... beneran... sungguh...).
Kalau dirunut-runut ke belakang, memang sahabat-sahabat saya itu kebanyakan mereka duluan sih, yang memulai proses pendekatan. Itulah sebabnya hampir semua sahabat saya adalah orang-orang yang ramai, terbuka, dan memiliki banyak teman.
Kalau orangnya introvert juga macam saya, sudah pasti tidak akan nyambung. Bayangkan saja jika orang pendiam bertemu orang pendiam, apakah mereka bisa jadi dekat? Emm... bisa juga sih, tapi sangat jarang. Hahaha...
Saya pernah punya sahabat pendiam. Dan itu terjadi karena dia adalah teman sebangku saya. Setiap hari bertemu dan duduk sebangku, sudah pasti jadi sahabat kan :D entahlah kalau tempat duduk kami berjauhan, apakah saya bisa menjadi sahabatnya atau tidak.

Sekarang karena sudah dewasa (baca: tua), saya sudah semakin mahir menyesuaikan diri dengan sekitar. Walaupun tetap ada saat-saat di mana saya butuh sedikit waktu untuk kembali menjadi introvert, kembali ke dunia saya yang sunyi sepi, ke zona nyaman saya. Karena itu adalah saat-saat saya menyiapkan amunisi, untuk menyapa dunia luar dengan ramai, dengan ceria, dengan menyenangkan.
Untuk para introvert yang sedang berusaha menjadi orang yang lebih ramai, langkah-langkah yang saya pakai ini mungkin bisa berguna:
1.   Berusaha untuk terlihat / terdengar antusias. Kalau biasanya saya hanya menanggapi sebuah kalimat dengan: “Oh, begitu ya? ehehehe...” maka sekarang saya menggantinya dengan: “Oh begitu ya? Beneran, saya baru tahu lho. Terus yang ini gimana?”
Ini akan memancing lawan bicara untuk melanjutkan pembicaraannya supaya tidak terjadi ‘krik... krik...’
2.   Menyapa dengan ‘ramai’. Dulu kalau bertemu dengan orang yang tidak terlalu akrab, saya hanya akan: “Eh, halo. Apa kabar?” kalau sekarang, saya akan menyapa dengan: “Eh, halo... lama yaaa nggak ketemu. Kangen deh. Gimana kabarnya? Bapak dan Ibu gimana kabarnya?” Biasanya sih, lawan bicara sesama introvert jadi akan sedikit ‘terbawa’ ramainya kita.
3.   Bercerita tentang ‘siapa saya’. Tidak usah terlalu mendetail juga, cukup yang bagian ‘luar-luar saja’. Ini akan membuat kita tampak terbuka, tampak nyaman dengan lawan bicara.
4.  Perbanyak wawasan. Banyak membaca, nonton berita, atau apapun yang bisa membuat kita update. Ini membantu sekali lho, biar kita selalu nyambung dalam setiap obrolan. Membuat kita terlihat asyik dan enak diajak ngobrol.
5.  Emm... apa lagi ya? Sementara itu dulu sepertinya. Nanti kalau ada tips-tips yang lain akan saya tambahkan lagi. Atau kalau ada tips lain dari teman-teman boleh lho menambahkan di kolom komentar.

Jadi, kalau suatu saat kita bertemu dan saya sedang pendiam, tolong jangan judge saya pada pertemuan pertama yaa :D karena percayalah, saya bisa ramai pada pertemuan-pertemuan selanjutnya ^_^

8 komentar:

  1. Zaman aku masih kecil sampai SMU kelas 2 aku temasuk yang katanya sih pendiam alias kalem. Ya ga introvert banget jugaaaa. Tapi kadang suka mikir sih pas kita belum kenal orang, agak sungkan menyapa duluan. Tapi makin berumur aku jadi makin sering nyapa orang duluan, jadi makin banyak temen dan beberapa sahabat yang bisa saling curhat hehehe :)

    BalasHapus
  2. Mbaaaa...
    Mengapa baca ini seolah sedang menulis tentang diri saya ya hahaha.

    Saya banget nih, terlahir introvert dan ditambah masa kecil dipingit (baca : dilarang keluar-keluar) oleh bapak.

    Jadilah saya tumbuh besar jadi anak yang pendiam (jika gak ada yang dikenal), lebih suka menyendiri, gak suka basa basi dll.

    Saya bisa berubah setelah lulus kuliah dan harus mencari kerja, mau ga mau saya harus bisa melawan sikap pendiam dan pemalu.

    Pun setelah saya berjodoh dengan suami yang keluarganya KB (baca Keluarga besar, hahaha)
    Mau ga mau saya harus melawan sifat saya untuk bisa masuk ke dalam keluarga besar suami.

    Alhamdulillah, waktu memang menolong para introvert untuk gak melulu terlihat aneh dan sombong.
    Meski sampai sekarang saya masih lebih suka ngendon di rumah, ga suka rumpi-rumpi ama tetangga dan kadang di rumah mertua, kalau udah bosan bercengkrama, saya memilih ngendon di kamar pura-pura nyusuin bayi hahaha

    Meskipun demikian, kata temen-temen saya itu humoris, introvert yang humoris, yang kata temen-temen juga saya pemalu setelah kenal eh malu-maluin, kayak komen saya ini, panjang banget pede ceritain diri sendiri hahaha.

    *peluk sesama introvert :D

    BalasHapus
  3. Kalau di media sosian termasuk di blog sepertinya saya terlihat cerewet, sebetulnya saya termasuk introvert di dunia nyata. Memang lebih banyak diamnya kalau di dunia nyata :)

    BalasHapus
  4. Saya introvert setelah tua Mbak..dulunya enggak. Cenderung meledak-ledak. Sekarang di saat emosi sudah stabil, lebih tenang bawaannya dan lebih diam...:)
    Ternyata bisa berubah gitu yaaa

    BalasHapus
  5. Tak kenal maka tak sayang, ya. Semoga blog menjadi sarana untuk lebih komunikatif. Males juga kalau terlalu cerewet heheee.

    BalasHapus
  6. Mbbaaaaa aku juga kikuk klo ketemu sesama orang pendiem, misal istrinya omnya suami...secara udahlah aku pendiem, klo aku ketemunya yang sesepesies eh maksudnya yang kalem juga yang ada saling bingung, malah ada rasa ga 3nakeun, kayak aduh kok malah kek dicuekin padahal ya asline tau sana juga orange ga luwesan kayak aku. Hahah...lain halnya ketemu orang yang grapyak...nah ini aku baru semangat, paling ga aku ga kayak dicuekin dan banyak ditanya tanya malah akunya jadi kebawa hepi

    BalasHapus
  7. aq kaya mba juga.. introvert tapi sudah byk memyesuaikan diri.. tapi tetep banyak yang ga diomonginnya meskipun sama kelg sendiri hehe

    BalasHapus
  8. Hehehe, saya juga bila di pertemuan awal-awal, cenderung mengamati dan jadi pendengar saja :)

    BalasHapus