Translate

Selasa, 20 Februari 2018

Tentang Standar Kenyamanan




Dulu, saya adalah penggila kerapihan.
Ketika masih kecil, saya menata kamar dan lemari dengan begitu detail. Sampai-sampai saya kepikiran untuk menyusun baju-baju saya di lemari dalam urutan warna pelangi (Hanya kepikiran ya, karena warna baju-baju saya tidak selengkap warna pelangi LOL).

Berkebalikan dengan adik saya, dia itu kamarnya super duper berantakan. Barang apapun tumplek blek di meja belajar dan kasurnya, sampai-sampai terkadang harus menghebohkan seisi rumah hanya untuk mencari sebuah benda yang ternyata berada di dasar tumpukan di kursi belajarnya.
Mbak yang membantu di rumah pun sering bilang, “Mbak Rita kayaknya nanti kalau gede bakal rapih banget pasti rumahnya, beda nih sama Adek kayaknya rumahnya bakalan berantakan terus...”
Wkwkwk... dan setelah dewasa rumah adik saya lumayan rapi juga kok ternyata... hehe...
:D
Jadi, kenapa dulu itu saya dan adik sangat bertolak belakang dalam hal kerapihan? Ya karena kami tidak sama. Kami adalah dua individu yang berbeda, hal-hal yang membuat kami nyaman juga berbeda.
Saya stress dan tidak bisa istirahat dengan santai ketika melihat kamar saya berantakan, ketika melihat sesuatu yang tergeletak tidak pada tempatnya, ketika pakaian tidak tertata sebagaimana maunya saya.
Supaya bisa merasa santai dan nyaman, ya saya harus beres-beres. Sudah itu saja sih. Jadi saya merapikam kamar semata-mata hanya demi kenyamanan saya.
Berbeda dengan adik. Kadang saya iri padanya karena sepertinya hidupnya begitu mudah. Dia bisa tertidur pulas di antara barang-barangnya yang berserakan di kasur tanpa sedikitpun terganggu. Dia bisa membaca novel atau komik dengan nyaman ditemani barang-barang yang menggunung di sekelilingnya. Dia bisa santai dalam kondisi begitu, dan dia merasa nyaman.
Jadi, standar kenyamanan kami berbeda. Dan mau tidak mau kami harus saling menghargai itu.
Sekarang sih, saya sudah menurunkan standar kenyamanan saya. Saya tidak lagi serapi dulu. Setelah menjadi seorang istri dan juga ibu, mulai banyak yang harus saya urus dan pikirkan. Kerapian adalah nomor yang kesekian, yang penting anak-anak sudah makan, piring dan baju sudah dicuci, baju seragam sudah disetrika, dan tagihan listrik serta cicilan sudah dibayar.
Sekarang otak saya seperti berlompatan kesana kemari memikirkan ini dan itu. Kalau masih saja harus mikir rumah rapi jali seperti kamar saya dulu di rumah orang tua, errrr.... lelah cynt...
Syukurlah saya tetap merasa nyaman. Itu yang penting kan? Karena kalau tidak, mungkin saya justru akan merasa stress sendiri.
Ketika suatu saat anak-anak protes, “Ma.... kok ini berantakan sekali sih...” Maka saya akan bilang, “Kalau kalian merasa tidak nyaman melihat itu berantakan, ya sudah bereskan saja. Jangan suruh Mama yang bereskan, karena Mama sama sekali tidak terganggu melihat itu berantakan...” *win...
Jadi menurut saya sih, apapun yang sekiranya membuat kita nyaman, ya usahakan sendiri. Jangan menyuruh orang lain apalagi sampai nyinyir, karena kemungkinan yang kita anggap tidak nyaman itu sebenarnya nyaman-nyaman saja untuk orang lain ya kan.
Bukan masalah rumah rapi atau tidak saja sih sebenarnya, masih banyak lagi standar kenyamanan yang berbeda-beda untuk setiap orang. Dulu saya pernah punya teman yang jika berbicara suaranya sangat keras. Pertama saya kaget sih, dan setelah jadi teman dekat saya baru berani menyarankan supaya dia menurunkan volume suaranya. Tapi malah dia jadi merasa tidak nyaman karena menurut dia, menurunkan volume suara itu sama saja dengan berbisik-bisik.
Jadi ya sudah sih, kalau bersuara keras lebih membuatnya merasa nyaman, ya biarkan saja. Siapa saya berani-beraninya merenggut kenyamanannya?
Tentang make up dan no make up. Ada orang-orang yang tidak bisa keluar rumah tanpa make up di wajahnya. Ya itu membuat mereka nyaman. Nggak bolehlah lalu ada orang yang tidak suka make up komen, “Neng, mau belanja sayur apa mau kondangan...?”
Ada orang yang sudah merasa cukup dengan hanya mengandalkan skincare, no make up. Dan merasa cukup nyaman pergi ke mana-mana tanpa make up. Ya sudah, itu kenyamanannya. Nggak boleh juga orang yang suka make up lalu komen “Dih pucet amat sih, nggak tahu ya kalau di dunia ini ada benda yang bernama lipstik...?”
:)
Intinya, marilah saling menghargai pilihan setiap orang. Pilihan yang pastinya membuat orang tersebut merasa nyaman. Meski kadang seperti tak masuk akal dalam pandangan kita.
:)
Selamat hari Selasa, terima kasih sudah membaca ^_^

3 komentar:

  1. Betul mbak kadang kita kepo dan komen apa yang dipakai orang padahal lhoo orangnya nyaman aja

    BalasHapus
  2. Mbaaa sama ih, aku juga pas kuliah nata baju sesuai warna wkwk
    Abis nikah pak su ga serapih aku punya style akhire standar kerapihanku takturunin dikit juga walo kdg masi sering inspeksi

    BalasHapus