Translate

Kamis, 31 Desember 2015

KADO



Ketika masih kecil dulu, saya biasa bertukar kado ulang tahun dengan para sepupu. Beranjak remaja, saya juga bertukar kado ulang tahun dengan para sahabat. Menyenangkan. Itu yang saya dan sahabat-sahabat saya rasakan ketika itu. Bukan hanya yang sedang berulang tahun dan mendapat kado saja yang merasa senang, tapi yang lain, yang sibuk berburu kado juga merasa asyik, seru, dan senang.

Ikhlas. Mungkin itu kata yang cukup pas untuk kami saat itu. Tidak ada embel-embel apapun di dalam niat maupun hati yang memberi. Yang diberi pun tidak ada perasaan berhutang atau beban karena harus ‘mengembalikan’ hehe....  semua berjalan natural saja. Pokoknya siapa yang sedang berulang tahun, maka yang lain akan sibuk berburu kado, lalu sibuk berbisik-bisik di dalam kelas....  begitu deh. Seru pokoknya.

Itulah bahagianya masa remaja ya, tidak ada beban. Semua serba ikhlas dan natural.

Nah kalau sekarang, setiap kali anak saya mendapat kado ulang tahun dari para kerabat (meskipun tidak dirayakan), saya akan segera sibuk mencatat kado A dari siapa, kado B dari siapa, dan seterusnya. Dengan harapan, suatu saat akan ada kesempatan untuk ‘mengembalikan’ dengan harga yang sepadan.

Tapi jujur lho, ketika saya memberikan kado kepada seseorang, saya tidak pernah berharap sedikitpun untuk mendapatkan ‘penggantian’.  Saya selalu ikhlas setiap kali memberikan kado, karena saya pikir seandainya saya tidak ikhlas, maka lebih baik saya tidak memberi kado. Tokh itu juga buka suatu kewajiban juga sebenarnya.

Ketika masih kuliah dan tinggal di kos-kosan, ada seorang teman kost yang menikah. Saya dan seorang sahabat memutuskan untuk patungan membeli kado. Pikir saya sih supaya lebih menekan pengeluaran, hehe... maklum anak kos.

Ternyata eh ternyata... sahabat saya itu memilih satu set peralatan dapur yang muahaall...  ketika dibagi dua, ya ternyata sama saja kalau beli kado sendiri-sendiri. Malah mungkin bisa lebih murah. Gak jadi deh, menekan pengeluaran hihihi.... Tapi ya sudahlah, saya tidak terlalu menyesalinya, malah ber-hepi-hepi-ria di acara pernikahan teman kost tersebut.

Tahun demi tahun berlalu, tibalah giliran saya yang menikah. Beberapa sahabat memberikan kado, ada yang sendiri-sendiri, ada juga yang patungan. Ala kadarnya, maklum beberapa dari mereka masih berstatus anak kost. Nah saya cukup surprise melihat ada tea-set yang cukup berkelas dan mahal di antara kado-kado tersebut. Oh, rupanya itu dari teman kost yang waktu itu saya beri kado dengan harga yang cukup fantastis (bagi saya lho ya). Rupanya dia ingat dan ‘mengembalikan’ dengan barang yang sepadan. Padahal kan waktu itu saya patungan... hehehe.....

Perasaan saya sekarang, mendapatkan kado, baik berupa uang maupun barang, kok jadi seperti dipaksa berhutang ya..... ada beban untuk mengembalikan gitu lho.

Bagus sih memang, jadi kita ada semacam itikad baik gitu ya, untuk membalas budi pada orang yang pernah berbuat baik pada kita. Nah masalahnya, bagaimana jika yang diberi kado mahal itu tergolong orang yang tidak berpunya? Apa dia juga harus memaksakan diri untuk ‘mengembalikan’ dengan harga yang sama?

Pengalaman pribadi nih. Beberapa bulan yang lalu, ada anak tetangga yang dikhitan. Tetangga saya ini mungkin bisa dibilang kurang mampu dalam segi ekonomi. Nah, kebetulan ketika itu saya sedang ada sedikit rejeki, jadi saya berikan amplop untuk anak itu dengan isian yang sedikit lebih banyak. Sungguh, saya ikhlas dan tidak sedikitpun mengharap apapun.

Dan beberapa bulan setelah itu, ketika giliran anak saya yang dikhitan, saya cukup terkejut ketika tetangga tersebut memberikan amplop kepada anak saya dengan jumlah isian yang sama. Saya jadi merasa tidak enak terhadap tetangga tersebut, karena hadiah saya yang agak besar nilainya ketika itu, membuat beliau jadi memaksakan diri untuk memberikan yang sama kepada anak saya. Coba kalau ketika itu hadiah saya tidak terlalu banyak, mungkin akan lebih meringankan beliau untuk ‘membalas’nya.

Malah sampai ada seorang teman bilang: semakin banyak kita menyebar bibit (maksudnya memberikan banyak hadiah kepada banyak orang), maka akan semakin banyak pula kelak kita akan menuai hasilnya (menerima ‘balasan’ hadiah). Jadi semacam menabung gitu kali ya hehe...

Tapi kok malah saya jadi kehilangan ‘greget’ seperti yang dulu pernah saya rasakan ketika masih remaja dulu ya? Saya tidak lagi merasakan perasaan ikhlas dan natural seperti waktu itu. Kado bukan lagi pertanda sayang, tapi hanya sebatas formalitas saja dan bahkan cenderung menjadi semacam kewajiban. Tidak ada perasaan merasa dicinta ketika menerima kado, yang ada justru perasaan merasa berhutang karena wajib mengembalikan.

Ini hanya perasaan saya sendiri, atau ada pula di antara teman-teman yang merasakannya juga?

11 komentar:

  1. kalo memberi kado kepada seseorang biasanya saya gak mengharapkan balasan Mbak, jadi kalo memberi kado selalu saya sesuaikan dengan isi dompet, hehe :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya sih, cuma kadang2 kalo kita yg dapat kado duluan itu jadi suka kepikiran untuk 'membalas' dengan harga yg sepadan. padahal yg ngasih juga mungkin gak berharap ya, tp kok sayanya aja yg suka gak sreg gitu hehe.... btw makasih ya mbak udah mampir :)

      Hapus
  2. Aku dulu juga suka tuler2an kado maak, seru ya, mski isiya cuma dompet murah, atau kertas surat, selalu suka. tetang formalitas memberikan kado, kadang merasa iya juga sih, karena ngga enak kalo ngga bawa gitu ya. Biasanya kalo sama orang yang ngga terlalu deket ada persaan kaya gitu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mak. perasaan seperti itu biasanya kalo orangnya gak terlalu deket. kalo orang deket sih santai aja malah kadang suka bilang: eh, kadonya ntar aja nyusul yaaa... lagi bokek nih... hehehe...

      Hapus
  3. Kalau kado kadang ngak penting isinya tapi niat dan perhatian di balik kadonya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. betul mbak. bagi saya kado itu semacam tanda sayang. makasih sudah mampir ya...

      Hapus
  4. Iya, ada yang mengartikan seperti berhutang, meski kita udah benar2 ikhlas. Tapi, itulah yg namanya menghargai satu sma lain ya, Mbak. :)

    BalasHapus
  5. betul mbak... belum lama saya memberikan 'amplop' utk seorang kerabat yg baru lahiran. eh gak lama kemudian saya dianterin sekotak bolu ke rumah. malah jadi ngerasa ngebebanin kalau seperti itu, karena saya kan murni mau kasih kado utk kelahiran bayinya. maksud saya gak usahlah membalas2 begitu, hehe... btw makasih ya sudah mampir :)

    BalasHapus
  6. ah, iya. Saya udah lama gak tukeran kado :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. kapan terakhir kali tukeran kado mak? :D

      Hapus