Translate

Sabtu, 21 September 2013

Perjalanan Mencari Bahagia



“Sayang, di mana kaus kakiku ?, kok lama amat sih bikin kopinya…, Aurel nangis terus niiih…!!!”
Teriakan Anton membahana di pagi yang indah dan cerah ini, seakan berlomba dengan suara tangisan Aurel, gadis kecilnya yang baru berumur satu tahun. Sementara Vera, istri cantiknya sibuk di dapur mempersiapkan sarapan untuk dua orang tercintanya,  mencarikan kaus kaki yang dia yakin sudah diberikannya pada suaminya tadi, tapi seperti biasa, Anton selalu lupa menaruh di mana, sekaligus mengambil koran baru di halaman depan untuk dibaca oleh Anton seperti kebiasaannya sebelum berangkat ke kantor.
Pagi yang selalu sama, seperti kemarin, kemarinnya lagi dan mungkin juga besok, besoknya lagi, dan entah sampai kapan. Setelah Anton berangkat kerja, Vera segera memandikan Aurel, menemaninya bermain sebentar lalu menidurkannya, setelah itu buru-buru berlari ke depan saat terdengar suara teriakan tukang sayur memanggil.
Hari ini masak apa yaaa…? Kemarin masak sop buntut, kemarinnya lagi masak gulai ayam, makanan kesukaan Anton. Masa sekarang masak itu lagi…?.
Hhh… tiba-tiba saja Vera merasa jenuh melihat tumpukan sayuran di depan matanya. Diedarkannya pandangan ke sekeliling dan dirasakannya bahwa rasa jenuhnya bukan saja pada sayur-sayuran itu, tapi juga pada gerobaknya, abang penjualnya, dan lebih parah lagi, rasa jenuhnya kini mulai merembet pada apapun yang dilihatnya. Pada jalanan kompleks rumahnya serta sekumpulan tukang ojek yang mangkal di ujungnya,  pada pagar rumahnya yang catnya sudah banyak terkelupas lengkap dengan tong sampah dengan sampah yang sudah menumpuk di depannya.
Lho, kemana abang tukang sampah ? apa dia tidak datang lagi hari ini ? apa dia tidak tau kalau sampah sudah menggunung dan mengganggu pemandangan ?.
Mungkin Anton mau membakarnya nanti sore sepulang kantor, tapi bukankah abang tukang sampah itu sudah mendapat bayaran tiap bulan, jadi tentu saja dia harus bertanggung jawab pada pekerjaannya….
Dengan gundah Vera masuk ke dalam rumah sambil menenteng sekantong tahu dan udang, serta beberapa jenis sayuran. Sengaja dia beli beberapa jenis, karena dia belum tau ingin memasak apa. Mungkin masaknya nanti sore saja, menjelang Anton pulang kerja. Makan siangnya bisa menyuruh bi Parni membeli bakso di ujung jalan, dekat pangkalan ojek, hitung-hitung memberikan kesempatan pada bi Parni untuk bertemu dengan pacarnya yang tukang ojek….  Pokoknya sekarang dia ingin bersantai dulu, menghilangkan kejenuhan yang tiba-tiba muncul. Tapi, benarkah kejenuhan itu datang tiba-tiba ?, bukankah kemarin dia sempat merasakannya juga, walaupun tidak sampai mengganggunya seperti hari ini ?. Dan kalau dipikir-pikir, dalam beberapa minggu terakhir perasaan seperti ini sering datang mengganggu, hanya saja tak begitu dipedulikannya.  
Hhh… dengan resah dinyalakannya televisi dan seketika tampaklah Sungai Mahakam yang indah di layar kaca. Ya, ya, dia pernah mendengar dan membaca tentang keindahan sungai ini, tapi belum pernah melihat secara langsung. Di layar televisi tampak sebuah jembatan yang membentang di atas Sungai. Itu pasti jembatan Kartanegara.  Kabarnya jembatan sepanjang 700 meter itu menjadi kebanggaan penduduk setempat. Vera sering mendengar tentangnya tapi baru kali ini melihatnya. Dari kejauhan, jembatan tersebut seakan diangkat oleh jutaan kunang-kunang karena bermandikan cahaya. Dengan takjub Vera memandangi pesawat televisi sampai tayangan tersebut menghilang digantikan iklan.
“Coba aku bisa datang langsung ke sana, bukan hanya melihat dari gambar atau menonton di televisi…” pikirnya sambil menyandarkan tubuhnya yang tiba-tiba terasa lelah. Dipejamkannya mata  untuk mengusir kepenatan. Suara musik di televisi terdengar semakin sayup. Pelan-pelan Vera mulai memejamkan mata dan merasa nyaman.
 Tiba-tiba ia tersentak bangun. Aha! Mungkin itu jawabannya ! ,mungkin itulah yang seharusnya ia lakukan. Pergi berlibur. Selama dua tahun pernikahannya, belum pernah sekalipun pergi berlibur. Bahkan bulan madu ke Bali yang mereka rencanakan setelah pernikahanpun terpaksa batal karena kesibukan Anton yang kelewat padat.
Tapi, bisakah mengajak Anton bepergian dalam waktu dekat ini ? apalagi perginya bukan Cuma sehari atau dua hari, Vera ingin paling tidak mereka pergi seminggu…. Padahal selama ini Anton sering sekali membatalkan janjinya untuk sekedar bertamasya di akhir minggu. Ah, masa bodoh, pokoknya dia akan pergi dengan atau tanpa Anton. Titik. Soal Aurel, untuk sementara mungkin akan dititipkannya pada mamanya, bukankah selama ini mamanya sering meminta Aurel untuk menginap beberapa hari di rumahnya, mama pasti tak keberatan jika dititipi Aurel selama seminggu saja.
Nah, beres. Sekarang tinggal memutuskan tujuan kepergiannya. Vera kembali membuka-buka brosur perjalanan wisata yang sejak dua tahun lalu disimpannya. Dulu dia dan Anton sengaja mengumpulkan brosur-brosur itu karena merencanakan bulan madu ke Bali. Saat semua sudah dipersiapkan tiba-tiba Anton mendapat perintah dari atasannya untuk mengurusi anak cabang perusahaan yang baru saja berdiri di Batam selama enam bulan. Secara otomatis impian bulan madupun buyar seketika.
Tapi itu dua tahun lalu. Sekarang takkan ada apapun yang akan ia biarkan merusak rencananya. Sebersit rasa bersalah muncul saat Aurel terbangun dan memanggil  dirinya. Segera diambilnya botol susu dari pemanas yang sudah dipersiapkannya lalu berlari ke kamar.
“Aurel akan mengerti.” Pikirnya ketika memberikan susu pada Aurel sambil menepuk-nepuk pantatnya untuk menenangkannya.
Tiga jam kemudian Vera sudah sibuk berkemas untuk pergi berlibur. Dia akan berangkat besok pagi. Semua izin dengan mudah didapatkannya. Anton dengan senang hati membiarkannya pergi karena dia memang menyadari belum bisa memenuhi keinginan istri tercintanya dalam waktu dekat ini. Sedangkan orang tuanya dengan penuh semangat  berjanji akan menjemput Aurel nanti malam untuk tinggal bersama mereka selama dia pergi. Biro perjalanan wisata yang dihubunginya mengatakan bahwa dia beruntung karena kursi yang mereka sediakan memang tinggal satu dan sudah akan berangkat  besok pagi.
Sengaja dipilihnya perjalanan dengan salah satu tujuan Sungai Mahakam karena saat dia melihat Sungai Mahakam itulah niatnya untuk bepergian muncul.
Sinar matahari yang menyilaukan langsung menerjang mata saat Vera dan rombongan wisatawan lainnya keluar dari pintu pesawat  di Bandara Sepinggan, Balikpapan.
“Kalau sedang musim panas begini, cuacanya tidak berbeda jauh dengan Jakarta, pagi hari sekitar 26 derajat Celcius dan siang hari bisa sampai 37 derajat Celcius.” Kata ketua rombongan menjelaskan. Ya, daerah ini memang berada di dekat garis khatulistiwa, sedangkan tanahnya mengandung batu bara. Jadi bisa dibayangkan seperti apa panasnya.
Sementara guide menceritakan beberapa hal lagi tentang kota ini, pandangan Vera tertuju pada seorang gadis kecil yang sedang digendong oleh ibunya. Mirip sekali dengan Aurel. Mungkin usianya sama. Wah, bagaimana ini, belum sampai satu jam dia turun dari peawat, hatinya sudah dipenuhi kerinduan pada Aurel. Jam segini adalah saatnya minum susu, mudah-mudahan mama tidak lupa. Tapi bukankah mama memang hafal sekali jadwal kegiatan Aurel ?, bukan baru sekali ini mama membawa Aurel menginap di rumahnya. Jadi tak ada yang perlu dikhawatirkannya. Dengan susah payah Vera mengalihkan pandangan dari gadis mungil itu dan memfokuskan diri pada guide yang masih sibuk menerangkan ini itu sambil menjawab pertanyaan-pertanyaan .
Di dalam bus yang membawa mereka menuju Kabupaten Kutai Kartanegara, Vera kembali teringat Aurel. Pada jam segini biasanya dirinya dan Aurel bermain di teras menunggu Anton pulang. Setelah itu mereka akan menonton film kartun kesukaan Aurel.
Memang cuma Aurel-lah yang pada akhirnya menonton film itu, sedangkan dia dan Anton
lebih suka melakukan hal lain yang lebih mengasyikan ,hmm…
 Aduuhh… kenapa jadi memikirkan yang di rumah sementara sekarang dia sedang liburan ?. lagi-lagi dengan susah payah Vera mencoba mengalihkan pikiran dengan berusaha menikmati hal-hal menarik di luar sana yang dilewati oleh busnya. Ketika itu dirasanya tidak berhasil, diapun mencoba untuk tidur seperti yang lainnya. Menurut guide  mereka baru akan sampai satu jam lagi, jadi mungkin sebaiknya dia tidur saja.

Ternyata bayangannya selama ini tentang Kalimantan tidak sepenuhnya benar, karena di antara lebatnya hutan, ada sebuah kota kecil yang indah dan gemerlap. Kota itu adalah Tenggarong, ibu kota Kabupaten Kutai Kartanegara.
Tenggarong kota yang cukup maju. gedung-gedung pemerintahan, hotel, dan sarana publiknya terlihat megah. Sepanjang perjalanan, tidak sekalipun terlihat pengemis atau anak-anak kecil yang berkeliaran di jalan. Pohon-pohon tertata rapi dengan hiasan lampu warna-warni. Jalan-jalannya terlihat bersih.
“Coba Anton juga ikut menikmati semua ini…” pikir Vera. Tiba-tiba dia merasa hampa. Tiba-tiba dia merasa bahwa semua keindahan di sekitarnya tak berarti apa-apa tanpa kehadiran Anton dan Aurel bersamanya. Apa yang terjadi padanya ? bukankah ini yang diinginkannya …?
Pemandangan di tepi Mahakam ternyata jauh lebih indah daripada yang pernah dilihatnya di gambar atau pesawat televisi. Hilir mudik perahu rakitan yang mengangkut batu bara, ketinting, serta kayu-kayu gelondongan yang mengapung di atas sungai, menjadi pemandangan sehari-hari yang terlihat di sini. Tak begitu jauh dari tempat Vera dan rombongannya duduk, berpasang-pasang muda-mudi asyik bercengkrama sambil menikmati bulan sabit dan bintang yang cahayanya gemerlapan. Melihat mereka, Vera kembali teringat pada Anton. Disadarinya bahwa ternyata dia tak bisa menikmati tour ini. Entah apa yang terjadi padanya, yang pasti kini dia menyadari apa yang sebenarnya lebih dan paling berarti dalam hidupnya.
 Dia memang terlambat mengetahuinya. Justru di saat keluarganya jauh darinya, dirinya sadar bahwa mereka adalah separuh dari hidupnya. Segala keindahan dan kesenangan takkan berarti apa-apa tanpa mereka. Begitu pula keindahan Pulau Kumala yang dijanjikan guide akan mereka datangi sebentar lagi. Dari kejauhan, pulau itu tampak seperti sebuah kapal pesiar besar yang megah dan bercahaya. Sangat mengundang untuk dikunjungi. sebenarnya dia ingin mengunjunginya bersama Anton dan Aurel, sesuatu yang tidak mungkin untuk saat ini. Tapi dia juga tak mungkin bisa menikmati, seindah apapun pulau itu tanpa Anton dan Aurel di sisinya.
Hhh… kalau begini terus, dia tak akan pernah bisa menikmati tour ini. Segala yang dikerjakannya pasti akan sia-sia kalau pikirannya terus bercabang. Dia harus mengambil keputusan…..

Panasnya Jakarta mengingatkannya pada saat-saat pertama dia menginjakkan kaki di Balikpapan. Saat itu dia merasa aneh dan asing. Berbeda dengan saat ini, walaupun sama-sama panas tapi hatinya terasa sejuk, apalagi saat dilihatnya Anton berlari-lari kecil menuju ke arahnya.
“katanya mau pergi seminggu, seingatku, baru kemarin aku mengantarmu, kok sekarang tau-tau sudah menjemput… baru aku tau kalau satu minggu di Balikpapan sama dengan satu hari di sini” . goda Anton sambil mengambil alih kopor yang dibawanya.
Vera tau kalau Anton juga  merindukannya.  Kenyataan  itu  sedikit  menghapus  perasaan malu  dan  bersalah  pada dirinya.  Mungkin  Jakarta  memang  panas  dan   membosankan baginya  tapi di sinilah  hidupnya  terasa  lengkap dan  sempurna.  Dengan perasaan damai dan bahagia  digandengnya   lengan  Anton menuju ke tempat parkir.  Dia sudah  tak sabar lagi untuk segera pergi ke rumah mama dan bertemu dengan Aurel tersayangnya….


* ketinting : perahu kecil, yang menjadi sarana transportasi masyarakat setempat.

3 komentar: