Translate

Sabtu, 21 September 2013

Ibu Istimewa



Menyenangkan rasanya bertemu kawan lama. Hampir 20 tahun kami tak saling berjumpa. Walaupun selama 3 tahun kami selalu bersama-sama, namun selepas SMP kami seperti punya kehidupan sendiri-sendiri. Saat SMU kami masih saling bertelepon walau frekuensinya sangat jarang. Begitu duduk di bangku kuliah kami benar-benar putus hubungan. Kami tak saling memberi kabar bahkan ketika kami masing-masing menikah.
Pertemuan kamipun sebenarnya bukan sengaja. Saat lebaran aku pulang ke rumah orangtuaku begitupun sahabatku itu. Dan seperti sudah direncanakan, kami bertemu di setasiun kereta, dan berlanjut dengan janjian untuk bertemu di rumah orang tuaku.
Astaughfirullah… aku sungguh tak menyangka sahabat baikku semasa SMP itu ternyata mempunyai seorang anak yang memiliki keterbelakangan mental. Walau kami baru bertemu kembali setelah sekian lama, namun bisa kurasakan saat dia mengeluarkan seluruh isi hatinya yang selama ini dipendam dan menyakitkannya seperti bisul yang siap untuk pecah. Sambil menangis dia memgungkapkan kekecewaannya terhadap hidupnya yang menurutnya terkena kutukan. Berulang-ulang dia bertanya kenapa harus dia ? kenapa dia yang harus menanggung malu dan beban memiliki seorang anak dengan keterbelakangan mental. Berulang kali pula dia bertanya kenapa hidup begitu tak adil padanya. Dari begitu banyak orang tua yang memiliki anak sempurna, kenapa harus  dia yang mendapatkan anak cacat ?. “Kenapa ?” berulang-ulang kata itu keluar dari bibirnya di antara isak tangisnya.
Jujur aku tak tau harus berkata apa. Karena aku memang tak pernah tau kenapa manusia diciptakan dengan nasib yang berbeda-beda. Kenapa tidak sama saja semuanya ? supaya tidak pernah ada rasa saling iri di antara sesama manusia ? akhirnya aku hanya bisa menduga-duga. “Mungkin di mata Allah, kamu adalah makhluknya yang paling istimewa” gumamku pelan tapi cukup untuk bisa menghentikan sejenak isak tangisnya.
“Istimewa? Istimewa bagaimana?” tuntut sahabatku.
“yah… merawat anak dengan keterbatasan itu kan membutuhkan jauh lebih banyak kesabaran, pengorbanan, kekuatan, dan semua dengan porsi lebih daripada merawat anak yang normal. Tidakkah kamu merasa bahwa kamu memiliki semua itu dengan porsi yang berlebih?”
“Benarkah?” isak tangisnya sepertinya benar-benar terhenti.
“Kamu istimewa !, kamu istimewa di antara yang lainnya,” aku semakin bersemangat untuk menyemangatinya. “Kamu hebat karena bisa membesarkan anak yang penuh dengan keterbatasan sampai sejauh ini. Dan kau bilang anakmu adalah anak yang berprestasi di sekolahnya bukan? Itu cukup menunjukkan betapa hebatnya kamu dibandingkan para ibu lainnya. Coba lihat aku, Allah hanya mempercayakan padaku seorang anak yang tidak membutuhkan begitu banyak kekuatan dan kesabaran. Kenapa? Karena aku tidak setabah, sekuat dan sehebat kamu. Kamu begitu istimewa sampai-sampai Allah memberikan kepercayaan yang begitu besar padamu. Pantaskah kamu menyesalinya ?”
Sahabatku tampak sedikit lebih tenang. “Entahlah…” bisiknya.  “Tapi terimakasih kamu sudah mau mendengarkan keluh kesahku, semoga aku memang sehebat dan seistimewa itu “
“Ya semoga…” doaku dalam hati…

4 komentar:

  1. hiks.., jadi teringat diri yg juga diberi anak hebat nan istimewa. syukurnya tidak pernah komplain ama Allah dengan pertanyaan 'mengapa?' Tapi tetap saja terkadang suka sedih dengan kesabaran diri yang tipis kala menghadfapinya. thanx, tulisan mbak jadi seperti membakar semngat diri ini

    BalasHapus
    Balasan
    1. kalau mbak sabar dan kuat, itu akan memberikan energy positif untuk buah hati tercinta toh? dan bukan mbak sendiri, masih ada banyak ibu di luar sana yg sama hebat dan istimewanya, berjuang tanpa kenal lelah untuk anak2 mereka yg special. semangat ya mbak :)

      Hapus
  2. betul mba, teman mba itu berarti istimewa. Telah bersabar dlm menerima segala takdir Allah.

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mbak, itu dia yg ingin saya tekankan padanya. semoga saja dia bisa selalu bersabar dan kuat. terimakasih ya sudah mampir :)

      Hapus