Translate

Sabtu, 09 Juni 2018

Cerita Antara Aku Dan High Heels


Terbiasa melihat Ibu memakai high heels saat ke kantor membuat saya cukup akrab dengan alas kaki ini sedari kecil.
Dulu saya sering berpura-pura menjadi orang dewasa dengan memakai high heels dan mencangklong tas milik Ibu :D dan sering merengek minta dibelikan high heels juga (saya menyebutnya sepatu jinjit ketika itu) yang mana saat itu masih jarang sekali yang berukuran kecil. Beda ya dengan sekarang di mana banyak anak-anak kecil yang sudah bisa bergaya dengan high heels.
Pada akhirnya saya bisa memiliki high heels sendiri saat duduk di bangku SMA. Itu juga hanya di saat-saat tertentu saja pakainya, tidak bisa setiap hari juga kan.
High heels baru benar-benar menjadi bagian dari hidup saya setelah kuliah. Karena saat itu rasanya tiada hari tanpanya :D saya bahkan berlari-lari mengejar dan melompat ke dalam bus dengan high heels, hahaha....
Sebenarnya ketika itu sudah beberapa kali mendengar selentingan tentang efek buruk memakai high heels, tapi saya tidak terlalu peduli. Belum pernah merasakan efeknya dan merasa baik-baik saja. Apalagi ketika itu juga melihat ada kakak kelas yang sedang hamil besar dan masih memakai high heels, saya yang: tuh, dia aja lagi hamil besar gitu pakai high heels nggak apa-apa kok :D
Kegemaran saya memakai high heels terus berlanjut setelah menikah, sampai kemudian hamil. Nah saat hamil ini, tiba-tiba saya tidak berani lagi pakai high heels, takut kenapa-kenapa. Mungkin efek dari perjuangan untuk hamil yang tidak mudah. Iya, saya baru hamil setelah hampir 2 tahun menikah, tidak terlalu lama sih, tapi Ibu sudah nanyain terus wkwkwk..... jadi begitu tahu kalau hamil, saya segera menyimpan semua high heels dan menggantinya dengan flat shoes dan sandal-sandal datar.
Kembali pakai high heels setelah beberapa bulan melahirkan daann... untuk pertama kalinya saya merasakan kram :D
Saat itu saya pakai high heels sambil menggendong anak dan menuruni tangga. Tiba-tiba betis saya kram, kaku dan sakit sekali. Kalau tidak sedang berada di tempat umum, rasanya ingin menangis saja saat itu. untungnya berhasil menemukan tempat duduk dan menunggu sampai kram itu berangsur-angsur menghilang.
Dan sejak hari itu fix saya tidak pernah lagi ber-high heels. Kram itu sungguh berhasil membuat saya trauma, hahaha.....
Dan kemudian rumah saya kebanjiran (masih di Bekasi waktu itu), dan high heels-high heels saya rusak terendam air. Dan saya tidak berminat lagi untuk membeli. Saat pergi ke toko sepatu, pilihan saya langsung tertuju ke flat shoes, bukan lagi high heels.
Masih punya satu high heels sih, khusus untuk kondangan saja. Itupun dari rumah saya pakai flat shoes. Pas mau turun dari mobil, baru ganti high heels. Selesai kondangan dan masuk mobil, langsung ganti flat shoes lagi, entahlah sekarang rasanya sudah tidak nyaman pakai high heels.
Nah beberapa hari ini mulai kepikiran pingin nyoba pakai high heels lagi gara-gara anak-anak saya bilang, “Mama cantik pakai begituan ((BEGITUAN)), pakai itu aja Ma biar cantik...”
Eerrr... pakai high heels lagi nggak yaaa....?

5 komentar:

  1. Saya tidak pede memakai sepatu hak tinggi. Lagian kalau pakai sepatu hak tinggi, langkah saya sangat terbatas. Saya tidak bisa playon, hehe (playon alias mlayu-mlayu)

    BalasHapus
  2. Saya mah nyerah kalau pakai high heels. Apalagi yang haknya runcing :D

    BalasHapus
  3. Pada intinya mana yang terasa lebih nyaman gitu ya, Mbak, hehe...

    BalasHapus
  4. Tossss... Aku udh stop pake highheels pas nikah :p. Sebelumnya high heels udh kayak sepatu wajib di manapun. Mau betis sakit ga peduli, yg ptg penampilan cetar hahahahah. Setelah nikah nyerah. Flat selalu, ato kalo mau tinggi aku lbh milih wedges yg lbh manusiawi :p

    BalasHapus