Translate

Senin, 06 Februari 2017

Modifikasi Nasehat ^_^



Pernahkah temans merasa begitu kesal pada anak karena sepertinya... iihh.... nih anak susah amat sih dikasih tahunya.
Saya sering dong. Hahaha....
Raki misalnya, dulu saya sampai kehabisan ide dan kata-kata untuk membuatnya mau lebih rajin belajar. Untuk membuatnya mengurangi waktu bermainnya karena sudah kelas 6, dan akan menghadapi ujian dalam waktu dekat. Saya jadi merasa cerewet sendiri sementara anaknya tenang-tenang saja, tetap saja banyak main dan belajarnya (menurut saya) sedikiiittt sekali.
Rafka juga, dia masih sangat menempel pada saya. Mau tidur siang saja terkadang masih minta dipeluk. Mau belajar minta ditemani. Nah masalahnya saya kan harus jaga warung, jadi tidak bisa setiap saat berada di dekatnya.
Dulu, Rafka seringkali berulah meminta perhatian saat saya sibuk dengan banyak pembeli. Jadi dia akan memanggil-manggil saya minta dibuatkan susu atau dipakaikan baju (padahal sudah bisa memakai baju sendiri). Otomatis saya jadi kurang berkonsentrasi dalam melayani pembeli.
Segala jurus dan trik sudah saya coba supaya Raki dan Rafka mau mendengarkan kata-kata saya, tapi sepertinya susaahh sekali. Sampai tiba-tiba saja jurus satu ini berhasil merubah mereka menjadi anak-anak yang manis dan penurut, dan ini memang tidak pernah saya sangka sebelumnya.
Jadi sekarang saya sudah tidak lagi mengomel dengan cerewetnya saat anak-anak sedang ‘melenceng dari jalur yang semestinya’.  Saya hanya akan mengajak mereka berbicara dan memberikan pilihan.
Untuk masalah Raki yang susah membagi waktu antara bermain dan belajar, saya hanya mengingatkan bahwa kami semua (termasuk dia juga) menginginkan agar dia diterima di SMP yang lokasinya paling dekat dengan rumah. Seandainya dia tidak bisa diterima di SMP tersebut, maka dia harus menempuh perjalanan yang lumayan ‘ribet’ dan tentu saja membutuhkan ongkos yang lebih besar.
Saya katakan padanya, bahwa uang jajanya pasti akan terpotong untuk biaya tranportasi jika dia tidak diterima di SMP dekat rumah. Ya, padahal sih seandainya memang sekolahnya jauh maka saya pasti akan menambah uang sakunya lah yaaa... tapi biar saja dia beranggapan bahwa uang jajannya akan terpotong seandainya sekolahnya jauh. Dengan begitu saya melihat sekarang dia jadi jauh lebih rajin belajar tanpa perlu saya cerewetin lagi. Hehe.......
Jadi ketika malas belajarnya sedang kambuh, saya cukup mengingatkannya akan dua pilihan: mau uang jajannya utuh atau terpotong? Dan berhasil. Horeee....
Rafka juga sekarang sudah tidak pernah lagi mencari perhatian saat saya sedang sibuk di warung. Alhamdulillah. Padanya, saya juga hanya bicara dan memberikan pilihan.
“Dek, kalau kamu minta ditemani sama Mama terus, apa mendingan Mama nggak usah jualan aja ya? Warungnya kita tutup saja ya...?”
Itu kalimat pembuka yang saya pakai saat memulai pembicaraan dengan Rafka. Awalnya Rafka mengangguk dengan senang mendengar ‘ide’ saya. Tapi saat mendengar ‘pidato’ saya selanjutnya, dia tampak berfikir dan akhirnya mulai memahami kondisi.
“Tapi di sekolah, kamu nggak bisa jajan ya, kan Mama nggak jualan, jadi nggak punya uang. Terus kamu nggak bisa beli es krim dan tahu bulat lagi sore-sore. Terus kalau kamu ulang tahun, kita juga nggak bisa beli kue yang ada lilin angkanya ya... kan kita nggak punya uang. Mama sudah nggak jualan....”
Percaya atau tidak temans, kata-kata itu sangat ampuh. Sekarang dia jadi bersikap lebih dewasa saat saya sedang melayani pembeli. Tidak lagi mencari-cari perhatian seperti dulu. Ya namanya anak-anak, terkadang masih suka muncul sih, hasratnya untuk dimanja dan diperhatikan. Kalau warung sedang sepi, tentu saya bisa memenuhinya. Tapi kalau sedang ramai pembeli dan Rafka kebetulan ‘kumat’ manjanya, saya cukup memberikannya pilihan: mau Mama tetap jualan, atau kita tutup saja warungnya? Tentu dengan dua konsekuensi yang sudah dia pahami benar. Dan dia lalu akan melepas saya dengan ikhlas. Horeeee lagi......
Untuk masalah sholat tepat waktu saya menggunakan metode ini juga, memberikan pilihan. Sejak kecil saya selalu menanamkan kepada anak-anak bahwa kami kelak pasti akan berkumpul kembali di surga asal mereka tidak melupakan kewajiban beribadah. Asal mereka selalu berada di jalur yang memang sudah disediakan oleh Allah.
Tapi namanya anak-anak terkadang masih suka lupa sholat. Kalau Raki sudah tidak lupa lagi, namun sering menunda-nunda waktu kadang-kadang sampai hampir waktu sholat berakhir dan dia baru beranjak untuk sholat.
Jadi saya suka bilang begini: “Kak, sayang sama Mama nggak? Mau ngumpul sama Mama lagi nggak nanti di surga?”
Dan kalau sudah diingatkan seperti itu dia langsung beranjak untuk sholat. Kadang-kadang malah Rafka yang mengingatkan, “Kak, sholat yuk... biar kita bisa ketemu Mama lagi nanti di surga..”  Jadi, itu termasuk memberikan pilihan juga kan ya?
Masih banyak lagi sih, nasehat-nasehat bahkan perintah yang saya modifikasi menjadi beberapa pilihan untuk anak-anak saya. Dan biasanya apa yang mereka pilih selalu sesuai dengan yang saya mau. Hohoho.... *merasa menang.
Ya setiap anak, setiap manusia tentu memiliki pribadi yang berbeda-beda ya temans. Dan setiap orang tua tentu memiliki cara tersendiri dalam membimbing dan mendidik putra-putrinya. Kalau boleh, sharing juga dong, bagaimana cara teman-teman menuntun putra-putri tercinta dalam menjalani kehidupan. Dan saling mendoakan ya, semoga anak-anak kita kelak menjadi pribadi-pribadi yang hebat. Tumbuh seperti yang kita harapkan. Aamiin.....

2 komentar: