Translate

Kamis, 03 Oktober 2013

Pernikahan: Bukan Sekedar Cinta


Menjadi ratu 3 hari. Mungkin seperti itulah yang bisa kugambarkan tentang perasaanku saat menjalani prosesi pernikahan, hampir sebelas tahun lalu. Ups, ketahuan tuanya.

Ketika itulah bisa kunikmati berjuta indahnya rasa. Di samping bisa menikah dengan pria yang kucinta, aku juga begitu diperhatikan dan dimanja (ya iyalah, namanya juga pengantin J)

Hampir seluruh kerabat dan sanak famili berkumpul di rumahku, bergotong royong membantu persiapan pesta pernikahanku. Rumahku jadi penuh sesak, tapi aku sangat bahagia. Tak kupikirkan apapun, selain menikmati rasa bahagia itu. Kuikuti semua rangkaian prosesi adat dengan patuh. Kunikmati dinginnya air dari 7 sumber mata air yang telah dicampur dengan serpihan-serpihan bunga mawar yang disiramkan ke tubuhku (BTW, benar nggak ya? Air itu benar-benar diambil dari 7 sumber mata air yang berbeda?), kunikmati  beratnya sanggul plus berbagai pernak-pernik hiasan kepala yang ditancapkan di rambutku, kunikmati lapar yang kurasa karena belum sempat sarapan sambil menyaksikan para tamu undangan yang sedang menyantap berbagai menu lezat sehingga aku harus berkali-kali menelan ludah J (ketika ngobrol dengan beberapa sahabat, ternyata memang hampir semua pengantin merasakan lapar di atas pelaminan hehehe…)

Dan semua keindahan plus kenyamanan sebagai ratu 3 hari yang kurasa itu tentu saja menyedot biaya yang tidak sedikit jumlahnya. Dan itu semua kedua orang tua kamilah yang menanggungnya. Ya, ketika itu aku memang masih berstatus mahasiswi, dan suamiku hanyalah karyawan biasa dengan penghasilan yang tidak seberapa. Memang kami beruntung karena dibesarkan di tengah keluarga yang meskipun tidak kaya raya, namun cukup berkecukupan. Sejak kecil, aku dan suamiku memang terbiasa mendapatkan semua yang kami inginkan dengan cukup mudah. Dan secara tidak sadar itu lalu membentuk kami berdua menjadi pribadi yang manja.

Setelah menikah dan bekerja, kebiasaan menganggap mudah segala keinginan masih terus tertanam dalam jiwaku. Kalau sebelum bekerja orang tuaku masih rutin mengirimiku uang, maka setelah aku bekerja orang tuaku menstop pengiriman uang dan aku mulai membiayai sendiri kehidupanku.

Membentuk sebuah kehidupan rumah tangga ternyata tak semudah yang kubayangkan. Begitu banyak biaya yang harus dikeluarkan. Iuran RT, arisan, membayar pajak, listrik, telepon, membeli beras, dan segala pernak-pernik kebutuhan rumah tangga yang jujur saja, tak pernah ada di benakku sebelumnya.

Di tahun kedua pernikahan, anak pertamaku lahir dan aku memutuskan untuk resign dari pekerjaan. Dengan sumber penghasilan yang tinggal satu (hanya mengandalkan gaji suami saja), aku masih belum juga mampu berfikir dewasa. Aku belum mampu membedakan mana yang benar-benar merupakan kebutuhan dan yang hanya sekedar keinginan. Boro-boro bisa menabung, yang terjadi selanjutnya adalah tagihan kartu kredit yang kian membengkak.

Dan puncak dari segalanya yang juga merupakan sebuah titik balik dalam kehidupanku adalah ketika perusahaan tempat suamiku bekerja mengalami keguncangan dan akhirnya harus gulung tikar. Dengan pesangon yang tak seberapa aku dan suamiku lalu mencoba-coba berbagai usaha. Ketika itulah baru benar-benar kurasakan susahnya mencari uang. Kalau semasa menjadi karyawan dulu aku tinggal menyelesaikan tugasku dan menerima gaji setiap bulan, maka kini aku harus sekuat tenaga memeras otak dan keringat untuk mempertahankan usahaku.

Jatuh bangun dalam mencari uang ini betul-betul melelahkan rasaku (saat itu aku adalah seorang pribadi manja yang seringkali tidak cukup kuat menahan badai masalah). Rumah tangga kami pun mulai diwarnai oleh percikan-percikan kecil kemarahan yang tidak tahu harus ditujukan kepada siapa. Pernah kami sampai di sebuah titik di mana aku dan suamiku tidak mampu lagi menahan segala rasa dan menyemburkannya seperti ledakan gunung berapi. Orang tua kami sampai harus turun tangan ketika itu untuk mendamaikan kami. Dan mungkin belajar dari semua yang telah terjadi, orang tua kami bersepakat untuk sama sekali tidak akan membantu kami dalam hal keuangan, walau hanya satu rupiah pun. Menurut mereka, keguncangan dalam rumah tangga kami ini terjadi karena kami berdua sama-sama belum dewasa terutama dalam hal mengatur keuangan. Dan dalam pantauan orang tua, aku dan suamiku lalu mulai belajar mengelola keuangan rumah tangga. Belajar membedakan mana yang harus dibeli dan yang hanya ingin  dibeli, belajar menghemat penggunaan listrik, belajar menentukan prioritas, dan masih banyak lagi yang harus kami pelajari.

Dan pembelajaran-pembelajaran seperti ini memang jauh lebih bermakna daripada sekedar kucuran dana tanpa kami tahu bagaimana harus mengelolanya. Diam-diam, saat ini aku mulai bertekad untuk tidak akan memanjakan anak-anakku terutama dalam hal keuangan. Aku ingin mereka berjuang dulu sebelum mendapatkan sesuatu. Aku ingin anak-anakku belajar menghargai uang dan tahu bagaimana seseorang harus berjuang untuk mendapatkan sedikit uang. Aku tidak ingin mereka mengalami apa yang sempat aku alami dulu. Ya, tentu aku tidak ingin menyalahkan orang tuaku yang mungkin dulu terlalu memanjakanku. Toh itu semua juga mereka lakukan karena terlalu menyayangiku.

Mungkin secuil pelajaran yang bisa kupetik adalah, menikah itu bukan melulu masalah cinta. Ya, mungkin di tahun-tahun pertama cinta itu masih kuat mendominasi, namun seiring berjalannya waktu, sebuah rumah tangga membutuhkan jauh lebih banyak daripada sekedar cinta. Ada pengorbanan yang harus diiklhaskan, ada pengertian yang harus senantiasa dipancarkan, ada keringat dan air mata yang harus dikucurkan, dan harus ada ketangkasan dalam pengelolaan keuangan. Karena rumah tangga itu bukan sekedar indahnya rasa. Rumah tangga itu juga membayar listrik, pajak PBB, telepon, iuran RT, arisan, biaya dokter, bayaran sekolah, beli beras, seragam sekolah anak-anak, adduuhhh banyak benerr ya J

Untuk mbak Uniek Kaswarganti, selamat sudah melampaui tahun ke sepuluh pernikahan. Selamat sudah berhasil melewati pahit manis asam asin pernikahan hingga saat ini. Tentu banyak sekali pembelajaran yang sudah dicapai ya?  Semoga kedepannya semakin baik, bertambah berkah untuk seluruh keluarga, selalu sehat, selalu kuat dan selalu dalam lindunganNYA amiinn….
 Kisah pernikahan ini diikutsertakan pada
 
 
 

 
 

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

 
 
 

1 komentar:

  1. Akhirnya bisa mengatasi masalah ya mba, Alhamdulillah. Semoga di tahun2 berikutnya makin solid dalam melangkah bersama suami dan keluarga tercinta.
    Terima kasih untuk partisipasinya :)

    BalasHapus